Indonesia Pada Masa Hindu - Buddha


    A.INDONESIA PADA MASA HINDU-BUDHA

Munculnya pemerintahan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia tidak terlepas
dari pengaruh kebudayaan India. Kebudayaan India itu bersentuhan dengan kebudayaan Indonesia.
Persentuhan kebudayaan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari adanya hubungan yang dilakukan oleh orang-orang India dengan orang-orang Indonesia atau sebaliknya. Hubungan itu berawal dari
kegiatan perdagangan sehingga pengaruh-pengaruh kebudayaan India dengan mudah masuk ke Indonesia. Terjadilah proses akulturasi antara kebudayaan India dan kebudayaan Indonesia. Demikian juga dengan pengaruh ajaran Hindu-Budha yang sekarang telah berkembang menjadi salah satu agama di Indonesia, tidak lepas dari adanya hubungan antara orang-orang
India dan orang-orang Indonesia.

1. Proses Masuk dan Berkembangnya
Kebudayaan Hindu-Budha
di Indonesia.

Proses masuknya kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia melalui proses yang panjang. Kita perlu
mengkaji pendapat para ahli untuk mengetahui proses tersebut. Pendapat para ahli tersebut memang masih berupa dugaan sementara yang masih perlu dibuktikan dengan bukti dan fakta yang lebih akurat. Meskipun demikian, pendapat-pendapat tersebut cukup berguna untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana proses masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Berikut ini adalah pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang proses masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu- Budha di Indonesia. Pendapat tersebut terbagi dalam dua bagian, antara lain sebagai berikut.

a. Bangsa India yang Aktif
Pendapat ini berusaha menjelaskan mengenai proses masuk dan berkembangnya kebudayaan
Hindu-Budha di Indonesia dengan menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam
menyebarkan Hindu-Budha. Orang-orang IndonesiaHindu-Budha tersebut. Pendapat mengenai adanya keaktifan orang-orang India dalam menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia yaitu sebagai berikut.

1) Hipotesis Waisya
Hipotesis Waisya dikemukan oleh NJ. Krom. NJ. Krom menyebutkan bahwa proses masuknya
kebudayaan Hindu-Budha melalui hubungan dagang antara India dan Indonesia. Para pedagang India yang berdagang di Indonesia disesuaikan dengan angin musim. Apabila angin musim tidak memungkinkan mereka untuk kembali, mereka dalam waktu tertentu menetap di Indonesia. Selama para pedagang India tersebut menetap di Indonesia, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Menurut NJ. krom, mulai dari sini pengaruh kebudayaan India menyebar dan menyerap dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

2) Hipotesis Ksatria
Ada tiga pendapat mengenai proses penyebaran kebudayaan Hindu-Budha yang dilakukan oleh
golongan ksatria, yaitu:
a. C.C. Berg menjelaskan bahwa golongan ksatria yang turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Para ksatria India ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para ksatria ini sedikit banyak membantu
kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai. Sebagai hadiah
atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang kemudian dinikahkan dengan salah satu
putri dari kepala suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria
dengan mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi.
Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.

b. Sama seperti yang diungkap oleh C.C. Berg, Mookerji juga mengatakan bahwa golongan ksatria dari Indialah yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia. Para Ksatria ini selanjutnya membangun koloni-koloni yang berkembang menjadi sebuahkerajaan.

c. J.L. Moens mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada
awal abad ke-5 dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Ternyata sekitar abad ke-5,ada di antara para keluarga kerajaan di India Selatan melarikan diri ke Indonesia
sewaktu kerajaannya mengalami kehancuran. Mereka itu nantinya mendirikan kerajaan di Indonesia.

3) Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini diungkap oleh Jc.Van Leur. Dia mengatakan bahwa kebudayaan Hindu-Budha India
yang menyebar ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana. Pendapatnya itu didasarkan pada
pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia, terutama pada prasasti-prasasti yang menggunakan
Bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Karena hanya golongan Brahmanalah yang menguasai bahasa dan huruf itu maka sangat jelas di sini adanya peran
Brahmana.

b. Bangsa Indonesia yang aktif.

Pendapat ini menjelaskan peran aktif dari orang-orang Indonesia yang mengembang kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Pendapat mengenai keaktifan orang-orang Indonesia ini diungkap oleh F.D.K Bosch. Menurut Bosch, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah orang-orang India yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Budha. Setelah tiba di Indonesia mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berziarah dan belajar agama Hindu-Budha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya pada masyarakat Indonesia yang lain. Pendapat F.D.K Bosch ini dikenal dengan nama Teori arus balik.

Kerajaan Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia

Lahirnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha merupakan salah satu bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Kerajaan-kerajaan itu antara lain Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram Lama (Berpusat di Jawa Tengah), Kerajaan Mataram Lama (Berpusat di Jawa Timur), Kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit,
Kerajaan Sunda, dan Kerajaan di Bali. Kapan kerajaan-kerajaan itu berdiri? Kebudayaan apa yang telah dihasilkan dari perkembangan kerajaan-kerajaan itu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan membaca uraian berikut ini.

a. Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai terletak di dekat Sungai Mahakam,Kalimantan Timur. Keberadaan kerajaan inidapat
diketahui dari tujuh buah prasasti (Yupa) yang ditemukan di Muarakaman, tepi Sungai Mahakam.
Prasasti yang berbentuk yupa itu menggunakan huruf pallawa dan bahasa sanskerta. Menurut
para ahli, diperkirakan kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kerajaan Hindu di India Selatan. Perkiraan
itu didasarkan dengan membandingkan huruf di Yupa dengan prasasti-prasasti di India. Dari bentuk
hurufnya, diperkirakan prasasti itu berasal dari Abad 5 M. Apabila dibandingkan dengan prasastidi
Tarumanegara, bentuk huruf di kerajaan Kutai jauh lebih tua. Berdasarkan salah satu isi prasasti Yupa, kita dapat mengetahui nama-nama raja yang pernah memerintah di Kutai, yaitu Kundungga, Aswawarman,dan Mulawarman. Nama Kundungga tidak dikenal dalam bahasa India, dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa nama tersebut merupakan nama asli daerah tersebut. Namun masih dalam yupa yang sama dijelaskan bahwa Kundungga mempunyai
anak yang bernama Aswawarman yang mempunyai putra bernama Mulawarman. Dua nama terakhir merupakan nama yang mengandung unsur India. Dengan demikian, salah bukti telah masuknya pengaruh kebudayaan Hindu di Indonesia dapat dilihat dari penamaan anak dan cucu Kundungga.
Prasasti Yupa dari Kutai
Prasasti Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sansekerta tersebut, dapat disimpulkantentang keberadaan kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan yaitu antara lain politik,sosial, ekonomi, dan budaya.
Kehidupan Politik
Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam prasasti Yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah Mulawarman, ia putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga.Dalam prasasti Yupa juga dijelaskan bahwaAswawarmandisebut sebagaidewa Ansuman/dewaMatahari dan dipandang sebagaiWangsakerta atau pendiri keluarga raja.Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluargaatau dinasti dalam Agama Hindu. Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesiaasli dan masih sebagai kepala suku, ia yang menurunkan raja-raja Kutai,Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/ erat antara Raja Mulawarman dengankaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam prasasti Yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernamaWaprakeswara. Dengan adanya istilah Waprakeswara, ,apa yang dimaksud dengan Waprakeswara?Waprakeswara adalah tempat suci untuk memuja dewa Syiwa. Di pulau Jawa disebut Baprakewara.
Kehidupan Ekonomi
Dalam kehidupan ekonomi, tidak diketahui secara pasti, kecuali disebutkan dalam salah satu
prasasti bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana.Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi tersebut diperoleh, apabila emas dan sapi tersebutdidatangkan dari tempat lain, bisa disimpulkan bahwa kerajaan Kutai telah melakukan kegiatan dagang.

Kehidupan Budaya
Dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini dibuktikan melaluiupacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) atau disebut upacaraVratyastoma
.Upacara Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena Kudungga masih mempertahankan ciri-ciri keIndonesiaannya sedangkan yang memimpin upacara tersebut, menurut para ahli dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada masa Mulawarmankemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh pendeta/kaum Brahmana dariorang Indonesia asli. Dengan adanya kaum Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwakemampuan intelektualnya tinggi, terutama dalam hal penguasaan terhadap bahasa Sansekerta padadasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa resmi kaumBrahmana untuk masalah keagamaan.

b. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua di Pulau Jawa yang dipengaruhi kebudayaan
Hindu. Letaknya di Jawa Barat dan diperkirakan berdiri kurang lebih abad ke–5 M. Sumber sejarah
mengenai kerajaan Tarumanegara dapat diketahui sumber luar negeri dan dalam negeri. Sumber luar negeri berasal berita Cina. Berita tersebut berupa catatan perjalanan seorang penjelajah Cina bernama Fa-Hien pada awal abad ke-5 M. Dalam bukunya Fa-Kuo-Chi, ia membuat catatan, bahwa di Ye-Po-Ti banyak dijumpai orang-orang Brahmana. Menurut para ahli yang dimaksud dengan Ye-Po-Ti adalah Jawadwipa atau Pulau Jawa atau Tarumanegara. Berita Cina lainnya berasal dari catatan Dinasti Sui, yang menerangkan bahwa telah datang utusan dari To-lo-mo yang menghadap Kaisar di negeri Cina pada tahun 528, 535, 630, dan 669. Sesudah itu, nama To-lomo
tidak terdengar lagi. To-lo-mo itu diidentifikasikan sebagai kerajaan Taruma (Tarumanegara).
Sumber lain mengenai keberadaan kerajaan Tarumanegara yang berasal dari dalam negeri adalah
berupa prasasti-prasasti yang ditinggalkannya. Prasasti yang telah ditemukan sampai saat ini ada tujuh buah. Berdasarkan prasasti inilah dapat diketahui bahwa kerajaan Tarumanegara telah mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu. Prasasti itu menggunakan hurup Pallawa dan bahasa Sansekerta. Dengan demikian, Kerajaan Tarumanegara seperti halnya Kerajaan Kutai mendapat pengaruh dari kerajaan Hindu yang ada di India Selatan. Berikut ini ketujuh buah prasasti tersebut yaitu sebagai berikut :.
1. Prasasti Ciaruteun, ditemukan di dekat muara
Cisadane. Pada prasasti ini terdapat cap sepasang
telapak kaki raja Purnawarman seperti kaki Dewa
Wisnu.

2. Prasasti Kebon Kopi, ditemukan di Cibungbulang,
Bogor. Didapatkan pula cap berupa telapak kaki
gajah sebagai symbol telapak gajah Airwata
(kendaraan Dewa Wisnu.

3. Prasasti Jambu, ditemukan di Bukit Koleangkak
yang berisi sanjungan kepada raja.

4. Prasasti Tugu, ditemukan di Desa Tugu,
Cilincing, Jakarta Utara yang merupakan prasasti
terpanjang dan terpenting. Isinya menjelaskan
tentang penggalian saluran Gomati sepanjang
6112 tumbak atau ± 12 Km pada masa ke-22
tahun pemerintahan Purnawarman dan dapat
diselesaikan dalam waktu 21 hari. Untuk
merayakannya, raja menghadiahkan 1000 ekor
sapi kepada para Brahmana.

5. Prasasti Pasir Lebak, isinya pujian kepada raja,

6. Prasasti Pasir Awi, dan

7. Prasasti Muara Cianteun.

Berdasarkan sumber-sumber tersebut, baik prasasti yang ditemukan di Jawa Barat maupun berita-berita dari Cina, dapatlah diperoleh gambaran mengenai kehidupan masyarakat kerajaan Tarumanegara pada masa itu. Mata pencaharian penduduknya adalah berpetani dan berdagang. Barang apa yang diperdagangkan, menurut berita yang ditulis Fa-Hien adalah perdagangan cula badak, kulit penyu dan  perak. Fa-Hien juga menjelaskan penganut agama Hindu jauh lebih banyak dibandingkan yang menganut agama Budha.

c. Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah berjaya di Indonesia. Kerajaan
ini mampu mengembangkan diri sebagai Negara maritim dengan menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional. Jalur pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa dikuasai. Dengan demikian, setiap pelayaran dan perdagangan dari Asia Barat ke Asia Timur atau sebaliknya harus melewati wilayah Kerajaan Sriwijaya yang meliputi seluruh Sumatera, sebagian Jawa, Semenanjung Malaysia, dan Muangthai Selatan.Keadaan ini menjadi sumber pendapatan kerajaan Sriwijaya dengan diberlakukannya bea cukai bagi kapal-kapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya. Selain dari bea cukai, penghasilan lain terutama diperoleh dari komoditas ekspor. Komoditas ekspor Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana,
gading gajah, buah-buahan, kapas, cula badak, dan wangi-wangian.
Menurut para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang, Sumatera Selatan. Kerajaan ini
diperkirakan berdiri pada abad ke-7 M. Seperti halnya kerajaan Tarumanegara, sumber sejarah kerajaan Sriwijaya berupa prasasti dan berita Cina. Sumber prasasti ini ada yang berasal dari dalam negeri dan ada juga yang berasal dari luar negeri. Sumber yang berupa prasasti dalam negeri antara lain:

1. Prasasti Kedukan Bukit (683M) di temukan di
daerah Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang
dekat Palembang. Isinya menerangkan tentang
perlajanan suci (sidha-yartha) Dapunta Hyang
dengan perahu disertai 2.000 orang prajuritnya.
Dalam perjalanannya pada tanggal 11 Waisaka
604 (23 April 682), ia berhasil menaklukan beberapa
daerah.

2. Prasasti Talang Tuwo (684 M) ditemukan di
sebelah barat Kota Palembang sekarang. Isinya
menyatakan pembuatan taman bernama Srikerta
untuk kemakmuran makhluk.

3. Prasasti Telaga Batu (683) ditemukan di dekat
Palembang. Berisi kutukan bagi rakyat yang
melakukan kejahatan dan tidak taat kepada raja.

4. Prasasti Karang Berahi (686 M) ditemukan di
daerah Jambi. Isinya berupa permintaan dewa
supaya menjaga kerajaan Sriwijaya dan menghukum
orang yang berbuat jahat.

5. Prasasti Kota Kapur (686 M), yang menyatakan
usaha kerajaan Sriwijaya untuk menaklukan
Jawa yang menolak kekuasaan Sriwijaya.

Para ahli menerangkan bahwa kerajaan di Jawa yang ditaklukan itu adalah Tarumanegara.
Informasi lain yang dapat diperoleh tentang kerajaan Sriwijaya didapat dari berita Cina. Berita itu
datang dari seorang pendeta yang bernama I-tsing.Ia pada tahun 671 pernah berdiam di Sriwijaya untuk belajar tata bahasa Sansekerta sebagai persiapan kunjungannya ke India. I-tsing menyebutkan bahwa di negeri Sriwijaya ada seribu orang pendeta yang belajar agama Budha. Seperi halnya I-tsing, para pendeta Cina lainnya yang akan belajar agama Budha ke India dianjurkan untuk belajar terlebih dahulu di Sriwijaya selama satu sampai dua tahun. Disebutkan
juga bahwa para pendeta yang belajar agama Budha itu dibimbing oleh seorang guru yang bernama
Sakyakirti. Berdasarkan berita I-tsing ini, dapatlah disimpulkan bahwa kerajaan Sriwijaya sejak abad
ke -7 M telah menjadi pusat kegiatan ilmiah agama Budha di Asia Tenggara. Puncak Kejayaan Sriwijaya terjadi pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa. Ia berjasa dalam mengirimkan para pendeta dari nusantara ke India untuk memperdalam ajaran agama Budha. Menurut isi
prasasti Nalanda di India, Balaputradewa mendirikan asrama khusus di Nalanda. Hubungan dengan India tidak bertahan lama, karena pada awal abad ke-11 Raja Rajendracola dari
Kerajaan Colamandala (India) melakukan penyerbuan besar-besaran ke wilayah Sriwijaya, antara lain Kedah, Aceh, Nikobar, Binanga, Melayu, dan Palembang. Berita penyerangan tersebut ada dalam prasasti Tanjore di India Selatan. Tetapi, penyerbuan Colamandala dapat dipukul mundur atas bantuan Raja Airlangga dari Jawa Timur. Atas jasanya ini, Airlangga dinikahkan dengan Sanggramawijayatunggadewi, putri raja Sriwijaya. Kekuatan Sriwijaya mulai menurun setelah
berhasil memukul mundur pasukan Colamandala. Menurunnya kekuatan itu dapat terlihat dari
ketidakmampuannya untuk mengawasi dan memberi perlindungan bagi pelayaran dan perdagangan yang ada di perairan Indonesia. Keadaan itu dimanfaatkan juga oleh kerajaan-kerajaan vasal (bawahan) untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya, seperti yang dilakukan oleh kerajaan Malayu (Jambi).

d.Kerajaan Mataram Lama (berpusat di Jawa Tengah)

Di daerah Jawa Tengah pernah berkuasa dua kerajaan Mataram, yaitu kerajaan Mataram Lama
yang bercorak Hindu-Budha dan kerajaan Mataram Islam yang merupakan cikal bakal Kesultanan
Yogyakarta dan Surakarta. Kedua kerajaan itu tumbuh berkembang dalam waktu yang berbeda. Pada bagian ini akan dibahas mengenai kerajaan Mataram Lama yang bercorak Hindu-Budha, sementara kerajaan Mataram yang bercorak Islam yang berkaitan dengan perkembangan
Islam di Indonesia.
Kerajaan Mataram Lama yang bercorak Hindu-Budha itu dikenal sebagai kerajaan yang toleran
dalam hal beragama. Hal tersebut dibuktikan dengan diperintahnya kerajaan ini pleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Sailendra yang beragama Budha. Berdasarkan interpretasi terhadap prasasti-prasasti, kedua dinasti itu saling mengisi pemerintahan dan kadang-kadang memerintah bersama-sama. Kerajaan Mataram Lama yang diperintah oleh dua dinasti secara bersamaan, yaitu ketika Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya menikah dengan Sri Pramodhawardhani dari dinasti Syailendra. Pada masa kekuasaan mereka pembangunan candi-candi yang bercorak Hindu-Budha banyak didirikan. Prasasti-prasasti yang berhubungan dengan
kerajaan Mataram ini dapat diketahui dari prasasti Canggal (732 M). Berdasarkan prasasti Canggal
yang terletak di Kecamatan Salam Magelang, dapat diketahui bahwa raja pertama dari Dinasti Sanjaya adalah Sanjaya yang memerintah di ibukota bernama Medang. Selain prasasti Canggal, ada juga prasasti Kalasan (778M) yang terdapat di sebelah timur Yogyakarta. Dalam prasasti itu disebutkan Raja Panangkaran dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Untuk lebih mengetahui raja-raja yang memerintah di Mataram, prasasti Kedu atau dikenal juga dengan nama prasasti Mantyasih (907 M) mencantumkan
silsilah Raja-raja yang memerintah di Kerajaan Mataram. Prasasti Kedu ini dibuat pada masa Raja
Rakai Dyah Balitung. Adapun silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Mataram adalah sebagai berikut

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya

2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran

3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan

4. Sri Maharaja Rakai Warak

5. Sri Maharaja Rakai Garung

6. Sri Maharaja Rakai Pikatan

7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi

8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang

9. Sri Maharaja Rakai Dyah Balitung.

Menurut prasasti Kedu dapat diketahui bahwa Raja Sanjaya digantikan oleh Rakai Panangkaran. Selanjutnya salah seorang keturunan raja Dinasti Sailendra yang bernama Sri Sanggrama Dhananjaya berhasil menggeser kekuasaan Dinasti Sanjaya yang dipimpin Rakai Panangkaran
Pada tahun 778 M.Sejak saat itu Kerajaan Mataram dikuasai sepenuhnya oleh Dinasti Sailendra.
Tahun 778 sampai dengan tahun 856 sering disebut sebagai pemerintahan selingan, karena antara Dinasti Sailendra dan Dinasti Sanjaya silih berganti berkuasa di Mataram. Dinasti Sailendra yang beragama Budha mengembangkan kerajaan Mataram Lama yang berpusat di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan Dinasti Sanjaya yang bergama Hindu mengembangkan kerajaan
yang berpusat di Jawa Tengah bagian Utara. Puncak kejayaan Dinasti Sanjaya terjadi pada
masa pemerintahan Raja Balitung yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mendirikan candi Prambanan dan Loro Jonggrang. Masa pemerintahan raja-raja Mataram setelah Dyah Balitung tidak terlalu banyak sumber yang menceritakannya. Tetapi dapat
diketahui nama-nama raja yang memerintah, yaitu Daksa (913-919), Wawa (919-924), Tulodhong (924-929), dan Mpu Sindok (929-948). Pada tahun 929 M ia memindahkan ibukota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur).

e. Kerajaan Mataram Lama (berpusat di Jawa Timur)

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Mpu Sindok memindahkan ibukota kerajaan Mataram dari Medang (Jawa Tengah) ke Daha (Jawa Timur). Selanjutnya Mpu Sindok ini mendirikan dinasti baru yang bernama Isanawangsa dan menjadikan Walunggaluh sebagai pusat Kerajaan. Mpu Sindok ini memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M. Mpu Sindok kemudian digantikan oleh Sri Isana Tunggawijaya yang memerintah sebagai Ratu. Ia menikah dengan Raja Sri Lokapala dan dikaruniai seorang putra yang bernama Sri Makutawang Swardhana Berdasarkan Prasasti Pucangan yang berangka tahun 1019, berikut ini silsilah raja yang memerintah di Mataram Jawa Timur. Pada akhir abad ke-10 M, Mataram selajutnya diperintah oleh Sri Dharmawangsa yang memerintah sampai tahun 1016 M. Ia adalah salah seorang keturunan Mpu Sindok.               
 Berdasarkan berita dari Cina, disebutkan bahwa Dharmawangsa pada tahun 990 M mengadakan serangan ke Sriwijaya sebagai upaya mematahkan monopoli perdagangan Sriwijaya. Serangan tersebut gagal, malahan Sriwijaya berhasil menghasut Raja Wurawari (sekitar Banyumas) untuk
menyerang istana Dharmawangsa pada tahun 1016. Dari sini mulai terjadi kehancuran Dharmawangsa,setelah Wurawari melakukan penyerangan ke istana.Peristiwa ini menewaskan seluruh keluarga raja termasuk Dharmawangsa sendiri, dan hanya Airlangga yang berhasil menyelamatkan diri. Airlangga berhasil menyelamatkan diri bersama Purnarotama dengan
bersembunyi di Wonogiri (hutan gunung). Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa.
Pada tahun 1019, Airlangga (menantu Dharmawangsa ) dinobatkan menjadi raja menggantikan Dhamawangsa oleh para pendeta Budha. Ia segera mengadakan pemulihan hubungan
baik dengan Sriwijaya. Airlangga membantu Sriwijaya ketika diserang Raja Colamandala dari
India Selatan. Selanjutnya tahun 1037, Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Dharmawangsa. Airlangga juga memindahkan ibukota kerajaannya dari Daha ke Kahuripan.
Pada tahun 1042, Airlangga menyerahkan kekuasaanya pada putrinya yang bernama Sangrama
Wijaya Tunggadewi. Namun, putrinya itu menolak dan memilih untuk menjadi seorang petapa dengan nama Ratu Giriputri. Selanjutnya Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi dua kerajaan yaitu sebagai berikut.

1. kerajaan Janggala di sebelah timur diberikan kepada putra sulungnya Garasakan (Jayengrana)
dengan ibukota di Kahuripan (Jiwana) meliputidaerah sekitar Surabaya sampai Pasuruan

 2. Kerajaan Panjalu (Kediri) di sebelah barat diberikan kepada putra bungsunya yang bernamaSamarawijaya (Jayawarsa), dengan ibukota di Kediri (Daha), meliputi daerah sekitar Kediri
dan Madiun.
Perkembangan selanjutnya yang memerintah di Kediri antara lain raja Jayawarsa, Jayabaya, Sarwewara, Gandara, Kameswara,dan Kertajaya. Kerajaan Kediri pada masa Kertajaya
ini akhirnya dikalahkan oleh dari Tumapel (daerah kekuasaan Kediri) pada tahun 1222 dalam pertempuran di Ganter. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Kerajaan Panjalu (Kediri)

f. Kerajaan Singhasari

Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa atas perintah Berihiang menyerang Kediri pada
tahun 1222, dan berhasil mengalahkan Kertajaya.selanjutnya mendirikan kerajaan di seluruh wilayah bekas kerajaan kediri. Di atas kekuasaannya ini, menyatakan diri sebagai raja baru dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Nama Tumapel diganti menjadi Singhasari. Dengan pusat pemerintahannya di sekitar Kota Malang (Jawa Timur). Ia berkuasa dari tahun 1222-1227.
Dalam kitab Pararaton dikisahkan bahwa adalah anak Dewa Brahma. Atas bantuan pendeta
Lohgawe, bekerja pada akuwu (kepala desa) Tumapel ( Malang) yang bernama Tunggul Ametung. Ketika bekerja di sana, menjalin hubungan asmara dengan istri muda Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes. Kemudian membunuh Tunggul Ametung, lalu menikahi Ken Dedes yang sedang hamil, dan sekaligus menjadi Akuwu Tumapel yang baru. Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, mempunyai empat orang anak yaitu: Mahisa Wongateleng,Panji Saprang, Agni Bhaya, dan   
Dewi Rimba,Kemudian dari perkawinannya dengan istri yang lain, yaitu Ken Umang, mempunyai anak bernama Panji Tohjaya. Pada tahun 1227 M, dibunuh oleh seseorang atas perintah Anusapati. Anusapati ternyata anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung atau anak tiri . Setelah membunuh , Anusapati menjadi raja Singhasari (1227-1248). Sepak terjang Anusapati ini didukungoleh Mahisa Wonga Teleng, anak Ken Dedes dari .Dengan meninggalnya , Tohjaya sebagai anak dari Ken Umang ingin membalas kematian ayahnya. Untuk itu, pada tahun 1248, Anusapati dibunuh
oleh Tohjaya. Dengan terbunuhnya Anusapati, Panji Tohjaya naik tahta menjadi Raja Singhasari.
Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Ranggawuni dan Mahisa
Campaka (anak Mahisa Wonga Teleng). Panji Tohjaya berhasil melarikan diri, tetapi ia meninggal
di Katang Lumbang. Jatuhnya Tohjaya, Ranggawuni memerintah di Singhasari (1248-1268).
Dalam menjalankan pemerintahannya ia didampingi oleh Mahisa Campaka (yang membantu Ranggawuni memberontak pada Panji Tohjaya) yang berkedudukan sebagai perdana menteri dengan gelar Narasingamurti. Pada tahun 1268 M, Raja Ranggawuni yang bergelar Wisnuwardhana meninggal dunia. Tampuk pemerintahan selanjutnya dipegang oleh putranya yang bernama Kertanegara. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu (Ekspedisi Pamalayu) untuk memperluas daerah kekuasaanya di luar Jawa. Ekspedisi ini juga dilaksanakan dalam rangka menahan serbuan tentara Mongol di bawah pimpinan Kaisar Kubilai Khan yang sedang melakukan perluasan wilayah di Asia Tenggara. Ketika datang utusan dari Mongol
untuk menyampaikan keinginan Kubilai Khan agar Raja Singhasari tunduk pada Mongol ditolak oleh
Kertanegara. Kubilai Khan marah, tentara Mongol kemudian menyerang Singhasari untuk menghukum Kertanegara. Tetapi peperangan tidak terjadi karena sewaktu mereka datang, kertanegara telah meninggal pada tahun 1292 M. Meninggalnya Kertanegara ini akibat serangan dari Jayakatwang (keturunan Raja Kediri). Dengan meninggalnya Raja Kertanegara ini
berakhirlah kerajaan Singhasari.

g. Kerajaan Majapahit
Setelah Kertanegara terbunuh oleh Jayakatwang, 1292. Raden Wijaya menantu Kertanegara berhasil melarikan diri ke Madura untuk minta bantuan Arya Wiraraja, bupati Sumenep. Atas nasihat Arya Wiraraja, Raden Wijaya menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Atas jaminan dari Arya Wiraraja, Raden Wijaya diterima dan diperbolehkan membuka hutan Tarik yang terletak di dekat Sungai Brantas. Dengan bantuan orang-orang Madura, pembukaan hutan Tarik dibuka dan diberi nama Majapahit.
Kemudian datanglah pasukan Tartar yang dikirim Kaisar Kubilai Khan untuk menghukum raja Jawa. Walaupun sudah mengetahui Kertanegara sudah meninggal, tentara Tartar bersikeras mau menghukum raja Jawa. Hal ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk membalas dendam kepada Jayakatwang. Jayakatwang berhasil dihancurkan. Pada waktu tentara Tartar hendak kembali kepelabuhan, Raden Wijaya menghancurkan tentaraTartar, Setelah berhasil mengusir tentara Tartar, Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Majapahit dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana pada tahun 1293,
3. Raja-raja yang memerintah di Majapahit

Raja pertama Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jaya Wardana (1293-1309 M). Beliau menikah dengan ke empat puteri Kertanegara yaitu: Dyah Dewi Tribuwaneswari
(permaisuri), Dyah Dewi Narendraduhita, Dyah Dewi Prajnaparamita, Dyah Dewi Gayatri. Langkah Raden Wijaya mengawini putri Kertanegara diduga berlatar belakang politik, agar tidak terjadi perebutan kekuasaan.Setelah Raden Wijaya meninggal, tahta digantikan oleh :
.Jayanegara atau Kala Gemet
pada tahun 1309. Beliau merupakan raja yang lemah, sehingga banyak terjadi
pemberontakan. Beberapa pemberontakan yang terjadi yaitu:

1). Pemberontakan Ronggolawe dapat diatasi

2). Pemberontakan Lembu Sora, dapat dipadamkan.

3). Pemberontakan Nambi, dapat diatasi

4). Pemberontakan Kuti pada tahun 1319, dapat diatasi berkat jasa Gajah Mada dan jasanya tersebut Gajah Mada diangkat sebagai Patih Kahuripan. Pada tahun 1321 Gajah Mada diangkat menjadi Patih Daha.

 Tribuwanatunggadewi (1328-1350 M)
Karena Jayanegara tidak mempunyai putra, tahta seharusnya jatuh ke tangan Gayatri. Karena Gayatri memilih menjadi Biksuni, maka Tribuwanatunggadewi putrinya ditunjuk sebagai wakil dan diangkat menjadi raja ketiga bergelar Tribuwanatunggadewi
Jayawisnuwardani. Di bawah pemerintahannya terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta, tapi semuanya dapat diatasi oleh Gajah Mada yang telah diangkat sebagai
patih Majapahit. Pada saat upacara pelantikan Gajah Mada sebagai Patih Majapahit tahun 1331, beliau mengucapkan sumpah yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa.
Inti sumpah tersebut adalah bahwa Gajah Mada tidak akan makan Palapa (arti palapa mungkin semacam rempah-rempah), tidak akan bersenang-senang/ istirahat sebelum seluruh kepulauan Nusantara bersatu dibawah kekuasaan Majapahit.
Tahun 1350 Gayatri wafat, maka Tribuwanatunggadewi yang merupakan wakil ibunya
segera turun tahta, menyerahkan tahtanya kepada putranya yaitu Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk (1350-1389 M)
Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk ini, Majapahit mencapai jaman keemasannya. Cita-cita Gajah Mada yang diucapkan lewat Sumpah Palapa,
disebut pula sebagai Wawasan Nusantara II dapat tercapai. Wilayah Majapahit, hampir sama dengan wilayah Republik Indonesia, maka Majapahit disebut sebagai Negara Maritim Nasional II. Selama pemerintahan Hayam Wuruk terjadi tiga peristiwa penting yaitu: peristiwa Bubad tahun 1357, perjalanan suci Hayam Wuruk ketempat leluhurnya
serta upacara Crada yang diadakan untuk memperingati wafatnya Rajapadni tahun 1362.
Dalam bidang ekonomi, Majapahit sebagai pusat perniagaan di Asia Tenggara waktu itu. Hasil-hasil yang diperdagangkan adalah beras, rampah-rempah, garam. Terjadi hubungan dengan negara lain seperti Siam, Ligor, Birma, Kamboja dan Annam.

a) Hasil sastra jaman Majapahit antara lain:

b) Kitab Negarakertagama karangan Prapanca

c) Kitab Sutasoma karangan Tantular .

Terdapat Kitab “Kutaramanawa” yang berisi tentang aturan hukum di Majapahit. Sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada Majapahit mengalami kemunduran. Pengganti Hayam Wuruk adalah puterinya yang bernama Kusumawardhani.

Ratu Kusumawardhani (1389-1429 M)
Pada masa pemerintahannya terjadi perang saudara dengan Wirabhumi yang disebut perang Paregreg. Berakhir dengan terbunuhnya Wirabhumi. Setelah Kusumawardhani berturut-turut adalah:

1). Dewi Suhita (1429-1447 M)

2). Bhre Tumapel (1447-1451 M)

3). Bhre Kahuripan (1451-1453 M)

4). Purwawisesa (1457-1467 M)

5). Pandan Salas (1467-1478 M)

Berakhirnya pemerintahan Pandanalas, digantidengan pemerintahan Giridrawardhana. Kerajaan Majapahit mulai mundur dan akhirnya runtuh, disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

a. Faktor Politik (dalam dan luar negeri).
Dalam negeri, kesatuan Majapahit atas kekuatan Gajah Mada, setelah Gajah Mada meninggal daerah yang luas tersebut tak dapat dipertahankan.

b. Faktor Ekonomi
Majapahit dulu dapat menyatukan daerah pertanian dan bandar-bandar, setelah ada ekspedisi Cina,bandar-bandar lebih suka langsung berhubungan dengan luar negeri. Bandar lebih demokratis, berusaha melepaskan diri dari Majapahit.

c. Faktor Agama
Perbedaan ideologi. Penyebaran Islam di AsiaTenggara, melalui jalur perdagangan yang lebih dulu terpengaruh adalah bandar, maka Bandar beragama Islam, Majapahit masih Hindu. Bandar Bandar menentang Majapahit. Ada pula pendapat yang mengatakan adanya serangan dari Demak. Dalam serat Kondo dan Babad Tanah Jawi runtuhnya Majapahit ditandai dengan candra sangkala: Sirna Ilang Kertaning Bumi : 1400 C = 1478 M.

h. Kerajaan Sunda

Berita tentang kerajaan Hindu di Jawa Barat setelah kerajaan Tarumanagara terdapat dalam
naskah Carita Parahyangan, sebuah sumber berbahasa Sunda Kuno yang ditulis sekitar abad ke-19. Dalam Carita Parahyangan diceritakan bahwa Sanjaya adalah anak dari Sena yang berkuasa Galuh. Sanjaya disebut sebagai menantu raja Sunda yang bernama Tarusbawa, dan bergelar.      
Tohaan di Sunda, Mendengar nama Sanjaya dan Sena Kalian tentu masih ingat bahwa kedua nama itu tercantum juga dalam prasati Canggal (732 M), yang menceritakan asal usul raja pertama dari dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram Lama. Bila kita bandingkan isi Carita Parahyangan dengan prasasti Canggal, ada kemungkinan Sanjaya di sana adalah orang yang sama. Sedangkan Sannaha dalam prasasti Canggal,kemungkinan Sena dalam Carita Parahyangan.Dengan demikian, di Jawa Barat pada masa itu ada kerajaan yang berpusat di Galuh dengan rajanya Sanjaya.Sumber lain yang menyebutkan adanya kerajaan di Jawa Barat adalah prasasti Sahyang Tapak (1030).
Prasasti ini ditemukan di tepian Sungai Citatih,Cibadak, Sukabumi dengan menggunakan bahasa
Jawa Kuno, huruf Kawi. Dalam prasasti ini disebutkan tentang adanya raja yang bernama Sri Jayabhupati yang memiliki kekuasaannya di Pakuan Padjajaran. Dia beragama Hindu. Setelah raja Jayabhupati wafat ibukota kerajaan dipindahkan lagi dari Pakuan Padjajaran ke Kawali (Ciamis) oleh Rahyang Niskala Wastu Kencana (raja pengganti Jayabhupati). Di Kawali ini Wastu Kencana mendirikan keraton Surawisesa,membuat saluran air di sekeliling keraton, dan membangun desa-desa untuk kepentingan rakyatnya.Rahyang Niskala Wastu Kencana selanjutnya digantikan Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kancana). Dewa Niskala sendiri nantinya digantikan
oleh Sri Baduga Maharaja. Raja ini meninggal setelah tujuh tahun memerintah di Galuh. Ia tewas dalam peristiwa Bubat (1357) setelah Sri Baduga menolak memberikan Dyah Pitaloka sebagai upeti untuk Hayam Wuruk (Raja Majapahit). Kerajaan Sunda selanjutnya diperintah oleh Hyang Bunisora (1357-1371), Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1374), Tohaan (1475-1482),dan Ratu  J Jayadewata (1482-1521).Menurut prasasti Batutulis pemerintahan Ratu Jayadewata ada di ibukota lama Pakuan Padjajaran. Kerajaan Sunda ini selanjutnya mulai terancam oleh perkembangan Banten dan Cirebon yang sudah menjadi pelabuhan yang dikuasai oleh orang-orang Islam. Merasa khawatir dengan perkembangan baru di pesisir utara, Sang Ratu Jayadewata mengutus Ratu Samiam (Prabu Surawisesa) ke Malaka untuk meminta bantuan pasukan Portugis memerangi
orang-orang Islam. Menurut berita Portugis, utusan yang dipimpin Ratu Samiam itu datang pada tahun 1512 dan 1521. Ratu Samiam atau Prabu Surawisesa menurut carita Parahyiangan menjadi raja Sunda pada tahun 1521-1535. Tindakan yang dilakukan oleh kerajaan Sunda itu tidak disukai oleh kerajaan Demak. Di bawah kepemimpinan Sultan Trenggono, ia berusaha bertindak untuk menghentikan pengaruh Portugis di Jawa. Dikirimlah menantunya yang bernama Fatahillah untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa dan menguasai pelabuhan tersebut. Keadaan tersebut secara politis menekan kerajaan Sunda. Selanjutnya, pada masa Raja Nuisya Mulya, kerajaan Sunda
runtuh pada tahun 1579 akibat adanya serangan dari Kesultanan Banten di bawah pemerintahan Maulana Yusuf.
             i.  Kerajaan Bali

Mendengar nama Bali tentu di antara kalian sudah tidak asing lagi. Masyarakatnya sampai sekarang kuat mempertahankan tradisi Hindu. Namun demikian, agama Hindu yang mereka anut telah tercampur dengan budaya masyarakat asli Bali sebelum Hindu.Melalui proses sinkretisme ini, lahirlah agama Hindu Bali yang bernama Hindu Dharma. Pada abad ke-7, nama Bali dalam berita Cina disebut dengan rnama Dwa-pa-tan, yang terletak di sebelah timur kerajaan Holing (Jawa). Menurut para ahli nama Dwa-pa-tan ini sama dengan Bali. Pengaruh Hindu di Bali berasal dari Jawa Timur, ketika Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit.Ketika Majapahit runtuh, ada sebagian
penduduk yang melarikan diri ke Bali, sehingga banyak penduduk Bali sekarang yang menganggap dirinya keturunan dari Majapahit.Prasasti yang menceritakan raja yang berkuasa di Bali ditemukan di Desa Blanjong, dekat Sanur.Prasasti ini berangka tahun 914. Dalam prasasti ini disebutkan Raja yang bernama Khesari Warmadewa,istananya terletak di Sanghadwala. Prasasti ini ditulis dengan huruf nagari (India) dan sebagian lagi berhuruf Bali Kuno, tetapi berbahasa Sansakerta. Raja selanjutnya yang berkuasa adalah adalah Ugrasena pada tahun 915. Ugrasena digantikan oleh
Tabanendra Warmadewa (955-967). Tabanendra kemudian digantikan oleh Jayasingha Warmadewa yang membangun dua buah pemandian suci di Desa Manukraya. Jayasingha kemudian digantikan oleh Jayasadhu Warmadewa yang memerintah dari tahun 975-983. Jayasadhu digantikan oleh adiknya Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Ia kemudian digantikan oleh Dharmodayana yang terkenal dengan nama Udayana yang naik tahta pada tahun 989. Udayana memerintah sampai tahun 1011. Salah seorang anaknya yaitu Airlangga menikah dengan
putri Dharmawangsa (raja Jawa Timur) sehingga Ia menjadi raja di Jawa Timur, sementara Marakata adiknya memerintah di Bali (1011-1022). Marakata adalah raja yang sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya, sehingga ia dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Untuk kepentingan peribadatan, ia membangun prasada atau bangunan suci di Gunung Kawi daerah Tampak Siring. Selanjutnya Marakata digantikan oleh adiknya yang bernama Anak Wungsu, yang memerintah dari tahun 1049-1077. Pada masa pemerintahannya, keadaan negeri Bali sangat
aman dan tentram. Rakyat hidup dengan bercocok tanam. Selain itu, rakyat juga memelihara binatang seperti kerbau, kambing, lembu, babi, bebek, kuda, ayam, dan anjing. Anak Wungsu tidak memiliki anak dari permaisurinya. Ia meninggal pada tahun 1077 M dan didharmakan di Gunung Kawi dekat Tampak Siring. Pengganti Anak Wungsu adalah Sri Maharaja Sri Walaprahu. Setelah pemerintahan Sri Walaprahu,muncul seorang ratu bernama Paduka Sri maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmiddhara Wijayatunggadewi. Masa pemerintahannya tidak banyak diketahui. Ia digantikan oleh Sri Suradhipa yang memerintah dari tahun 1115-1119 M dan digantikan oleh Sri Jayasakti. Pada masa pemerintahan Sri Jayasakti, dia sangat memperhatikan rakyatnya tindakan yang dilakukan anatara lain meringankan beban pajak rakyatnya. Sri Jayasakti memerintah hingga tahun 1150 dan digantikan oleh Ragajaya.
Setelah masa pemerintahan Ragajaya, di Baliterjadi kekosongan pemerintahan. Baru pada tahun
1170 muncul nama seorang raja yang bernama Jayapangus. Pada masa pemerintahan Jayapangus, kitab hukum yang dipakai adalah kitab hokum Manawakamandaka.Setelah Jayapangus masih banyak lagi raja lainnya yang memerintah di Bali. Sewaktu Bali diperintah
oleh Bhatara Sri Asta-asura-ratna Bumi Banten, Bali tahun 1430 ditaklukan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Raja Bali ini menjadi raja terakhir yang memerintah di Bali. Sejak tahun itu Bali diperintah oleh raja-raja keturunan Jawa yang menganggap dirinya sebagai “wong Majapahit” artinya keturunan Majapahit. Walaupun demikian, di Bali masih terdapat kerajaan-kerajaan lain seperti Gianyar, Tabanan,Karangasem dan Buleleng

KESIMPULAN
~ Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia berjumlah 9 antara lain, Kerajaan Kutai, , Kerajaan Tarumanegara,  Kerajaan Singhasari, , Kerajaan  Sriwijaya, , Kerajaan Mataram Lama (yang berpusat di Jawa tengah), , Kerajaan Mataram Lama (yang berpusat di Jawa Timur), Kerajaan Bali, Kerajaan Sunda, dan , Kerajaan Majapahit.

~Kerajaan Tertua di Indonesia adalah kerajaan Kutai

~Kerajaan Tertua di Pulau Jawa adalah Kerajaan Tarumanegara

~Kerajaan terbesar pertama di Indonesia adalah kerajaan Sriwijaya, dan kerajaan terbesar kedua adalah kerajaan Majapahit.

~Kerajaan Sriwijaya telah menjadi tempat untuk belajar agama Budha selain India,dan juga terdapat banyak sekali Pendeta yang belajar disana

~Kerajaan Hindu-Budha tersebut memiliki peninggalan bersejarah yang digunakan untuk mengetahui kehidupan mereka pada zaman dahulu.

~ Kebanyakan kerajaan Hindu-Budha dipengaruhi oleh Agama di India.

~ Di dalam silsilah Kerajaan tersebut dapat ditemukan bahwa antara kerajaan yang satu dengan kerajaan yang lain memiliki ikatan kekeluargaan yang dapat disebabkan oleh pernikahan, pembangunan kerajaan baru dll.

~ Banyak sastrawan dan juga seniman pada zaman kerajaan yang dapat membuat berbagai macam peninggalan bersejarah yang sangat mengagumkan (contoh :Candi Borobudur ) dan juga menjadi sumber pembelajaran ilmu pengetahuan bagi masa sekarang untuk mengetahui kehidupan mereka pada zaman dahulu.




        

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar